Senin, Maret 29, 2010

Penghuni Surga Ya Pak ?



"Insya Allah kita semua penghuni surga ya Pak ?", ujar seorang lelaki tua diseberang antrian berwudhu untuk menunaikan shalat maghrib di Mesjid Stasiun Bekasi kepada lelaki di depannya yang sebaya dengannya. "Insya Allah, imbuh lelaki temannya itu".
          Sejenak setelah KRL EKSPRESS JAKARTA-BEKASI berhenti di stasiun terakhir, stasiun Bekasi. Bergegas akupun mencari tempat duduk sejenak untuk membatalkan shaumku dengan hidangan teh kotak dan sebuah donat yang kubawa dari kantor petang itu sebelum pulang. Perlahan donat dan teh kotak membasahi tenggorokan juga lidah serta mengisi perutku, memberi rasa manis di lidah. Glukosa yang dihasilkan menjadi karbohidrat sebagai energi yang dibutuhkan sesaat agar punggung mampu tegak berdiri dan lidah tak lunglai saat menyebut asmanya..
             Sesaat setelah berbuka, akupun ikut mengantri dalam barisan untuk berwudhu, satu demi satu secara rapih bergantian mengambil air wudhu dengan sabarnya. Sedikit demi sedikit antrian mulai maju semakin mendekati keran air dan tiba-tiba seorang lelaki paruh baya yang tak jauh dariku berucap pada temannya yang tepat didepannya.."Calon penghuni surga semua ya, Pak ?".
           Sesaat akupun merenung tentang kisah sahabat nabi yang bersedih saat tahu namanya bukanlah termasuk dari daftar yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah Sallahu'alayhiwassalam dan akupun ikut teringan pada kisah  sahabat yang tak disangka-sangka oleh sahabat lainnya adalah orang yang dijamin masuk surga sampai membuat penasaran sahabat lain untuk tahu keutamaan amalannya..
                Pertanyaan pun muncul apakah begitu mudahnya masuk surga ?
(Saat Maghrib di Stasiun Bekasi*29.03.10*) 

Senin, Januari 11, 2010

Pagi Ini…



            Pagi ini hari begitu kelam, mendung dan gerimis mewarnai langit dan alam Jakarta, Sang Ibu Kota. Dingin masuk dalam relung kulit kaki yang tak terlindungi sepatu kaos kaki. Karena pagi ini harus mengenakan sandal Eiger yang kurang lebih setahun ini menemani dan sampai kantorpun kaki kotor terkena beceknya jalanan.
            Sepanjang perjalanan banyak hal yang ku lihat kawan, yang sangat menajdi perhatianku ada beberapa hal yang ingin kuceritakan di pagi ini, ya pagi ini.. Hal pertama yang ku lihat seorang “bocah” perempuan yang diboncengi di motor hendak menuju ke sekolahnya, ku rasa dia masih duduk di Sekolah Dasar ekelas 1 atau 2 “Mungkin”. Gerimis yang turun membasahi jalan turut pula membasahi bocah itu meski hanya sedikit. Bocah itu sempat-sempatnya memainkan tangannya pada air yang tergenang di atas kain penutup bak mobil pick up itu. Aku pun tersenyum dibalik saputangan yang menutupi sebagian wajahku guna mengurangi polusi udara yang terhirup. Bisikku pada diri dan hati, “lugu sekali bocah ini, ada saja keisengan yang dia lakukan” dan saling-menyalip mobil dilakukan pengendara motor pada sedikit ruang antara mobil begitupun denganku.
            Kemudian tiba-tiba berhenti di perjalanan untuk sejenak bukan karena macet atau memang ingin berhenti, tapi ternyata seorang polisi dengan badan yang tinggi-besar sedang menyetop semua kendaraan untuk mempersilahkan beberapa wanita tua yang hendak menyeberang dan polisi itu sengan tersenyum kepada pemilik kendaraan yang diberhentikan.. Bisikku pada diri dan hati, mungkin ia polisi yang ramahd an murah senyum. Hmm….
            Ketika ditikungan pas sekali depan stasiun kereta api jatinegara dengan bangunan tuanya dan macet ayng selalu setiap lewat sana, hampir saja seorang tua dengan topinya di tengah gerimis yang memeluk Koran-koran yang tebal dengan berbagai nama media berjalan menyeberang memperhatikan sandal jepitnya yang putus tertabrak olehku, Alhamdulillah spontanku “mengerem” masih jauh darinya. Tiba-tiba bisikku kembali pada diri da hati, teringat syair seorang penyanyi terkenal di tanah air yang syair-syairnya mengandung makna sangat dalam. Ya, aku teringat sebuaah syair “Si Budi Kecil”, Ini sepenggal syairnya yang ku ingat..


Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan tugu Pancoran
Tunggu pembeli jajakan Koran

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal


            Benar-benar dalam sekali makna syair ini kawan. Tapi yang kulihat bukanlah Si Budi Kecil Pancoran, tapi Si Tua Jatinegara. Teringatkupun pada ayat “Sesungguhnya mata (lahir) mereka tiada buta, tetapi hati yang dalam dada merekalah yang buta….” (Surat Al Hajj, XXII, ayat 46).

            Kawan andai saja kita mau menggunakan mata dan hati kita dalam perjalan hidup ini, akan banyak hikmah yang mampu kita ambil dari mereka dan alam bahkan dedaunan kering yang berguguranpun menginspirasiku untuk menulis syair.

Jakarta, 12 Jan 10
Pengembara Masa
arys.agusman@yahoo.co.id



Jumat, Januari 01, 2010

Ini tentang "Tiba-tiba Aku Cemburu"..



Ya..Tiba-tiba aku cemburu lagi pada dia...

**Aku cemburu pada dia yang selalu menjaga Shalat berjamaahnya di Mesjid pada awal waktu, walau mendung segera tiba dia tak ragu melangkahkan kakinya...

Ya..Aku benar-benar cemburu kawan..

**Aku cemburu pada dia yang begitu mudah mengeluarkan infaq pada pengamen, pengemis dan mereka yang membutuhkan dengan tersenyum memberikannya dengan mengharap ridha Rabbnya saja..

Kali ini aku begitu cemburu kawan..

**Aku cemburu pada dia yang selalu membawa mushaf di tas ranselnya dan senantiasa membacanya di perjalanan bahkan saat sedang menunggu, ia pun begitu mencintai halaqah qur'annya setiap pekan..Senyum yang sumringah saat ia menceritakannya padaku

Tak hanya cemburu.. Aku kagum padanya..

**Aku cemburu pada dia yang selau saja hadir dalam coretan-coretan penanya, tarian jari-jemarinya di atas leptop juga HP.. Sekedar membuat tulisan atas perenungannya sejenak ataupun lamanya muhasabah ia..dan ia bagikan pada ku..

Cemburuku menggebu-gebu kawan.. Begitu nikmatnya ia atas anugerah yang ia miliki dengan mata dan hatinya..tulisannya menjadi nasehat dan kritikan bagiku..

**Aku cemburu pada dia yang menjaga shaum sunnahnya setiap pekan, bulan.. bahkan ia sering mengingatkanku kawan lewat sms..

Akupun tertunduk malu dan cemburu dengan amalannya..

**Aku cemburu pada dia sahabatku yang berusaha menjaga bersiwak sebelum melaksanakan Shalat baik yang fardhu juga sunnah..

Ya..Aku cemburu kembali kawan..

**Aku cemburu pada dia yang selalu saja menjaga pandangannya ketika berhdapan denganku juga dengan ikhwan lainnya..

Aku cemburu dengan komitmennya dan penjagaan hati dan matanya kawan..

**Aku cemburu pada dia yang tetap eksis di kancah dakwah kampus..padahal saat itu di dalam tubuhnya sedang hinggap penyakit yang terus menggeroroti tubuhnya dan penyakit itu ia sembunyikan pada semuanya..Hingga akhirnya fisiknya pun tak mampu menahan dan akhirnya harus beristirahat sejenak..dan dia tak pernah mengeluh..

Aku cukup kagum dengannya kawan..dengan semangatnya dalam dakwah.. Ia membuatku malu pada Allah dan Mujahid di Negeri jihad sana juga pendahulu-pendahu dakwah din ini..

**Aku cemburu.........

Aku benar-benar cemburu pada dia..dia dan dia yang pernah memberikanku inspirasi dan hikmah dalam pengembaraanku..

Kamis, Desember 31, 2009

Merantaulah



Orang pandai dan beradab tak kan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak dia kan keruh menggenang

Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran
Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang

Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan
Jika dibawa ke kota berubah mahal jadi incaran hartawan

(Al-imam asy-Syafi'i)

Palestine Forever (by Sami Yusuf)




Mother don’t cry for me I am heading off to war
God almighty is my armour and sword
Palestine, Forever Palestine

Children being killed for throwing stones in the sky
They say to their parents don’t worry, God is on our side
Palestine, Forever Palestine

Mother don’t worry when they come for us at night
Surely they’ll be sorry when God puts them right
Tell me why they’re doing what was done to them
Don’t they know that God is with the oppressed and needy
Perished were the nations that ruled through tyranny
Palestine, Forever Palestine

Children of Palestine are fighting for their lives
They say to their parents we know that Palestine is our right
They say to their parents we’ll fight for what is right
They say not to worry God is on our side
They say we’ll die for Palestine
Palestine, Forever Palestine


(Selalu sedih dengar syair nasyid ini.. Bertahalanlah saudarak-saudaraku disana.. Insya Allah akan ku panjatkan do'a untuk kalian selalu.. maaf tak bisa berbuat banyak.. :'()