Sabtu, September 26, 2009

Atas Nama Cinta

Tika mata
Diuji manisnya senyuman
Terpamit rasa menyubur harapan

Dan seketika
Terlontar ke dunia khayalan
Hingga terlupa singkat perjalanan
Tersedar aku dari terlena
Dibuai lembut belaian cinta

Rela aku pendamkan
Impian yang tersimpan
Enggan ku keasyikan
Gusar keindahannya
Merampas rasa cinta
Pada Dia yang lebih sempuna

Bukan mudah
Bernafas dalam jiwa hamba
Dan ku cuba
Menghindarkan pesona maya
Kerna tak upaya ku hadapinya
Andai murka-Nya menghukum leka

Diatas nama cinta
Pada yang selayaknya
Kunafikan yang fana
Moga dalam hitungan
Setiap pengorbanan
Agar disuluh cahaya redha-Nya


Biar sendiri hingga hujung nyawa
Asal tak sepi dari kasih-Nya
Kerna sesungguhnya hakikat cinta
Hanya Dia yang Esa

Saratkan hati ini dengan cinta hakiki
Sehingga ku rasai
Nikmat-Nya
Syurga-Nya
Cinta-Nya

Selasa, September 08, 2009

Dibalik hikmah “Berduaan” dengan Allah



Oleh : Pengembara Masa

Disadur dari Majalah Tarbawi Edisi Syawal “Mereka yang Terkabulkan Permintaannya Melalui Itikaf”
Sesungguhnya lisan yang tulus dan fasih itu dapat berperan mempengaruhi umat seperti peran pasukan tentara yang besar, memiliki semangat yang berkobar, dan gagah berani menghadapi pertempuran.

Lisan yang tulus dan fasih itu berbicara dengan hati secara langsung, menyeru jiwa tanpa hijab, dan mengajak nurani pada apa yang dikehendakinya.

Seperti itulah Rasulullah mendakwahkan islam pada para umat islam terdahulu, seperti para mujahid yang menggentarkan lawan dan membangkitkan semangat jihad kala itu di Andalusi dan seperti Syeikh Ahmad Yassin dari kursi rodanya mengguncah semangat pemuda palestina untuk mengangkat senjata melawan Zionis laknatullah.

“Diantara orang-orang yang takut pada Allah ada yang duduk dikehenigan malam, menengadahkan kepalanya dan mengangkat tangannya seperti pengemis. Itulah wajah kerendahan dan kepasrahan dan yang paling nyata..dengan begitu doa akan diijabah.” (Imam Ibnu Rajab Al Hambali)

Ibnu Qayyim berkata, “Para pencari akhirat itu terbagi kepada dua bagian: diantara mereka ada yang beramal untuk mendapat pahala dan ganjaran; dan diantara mereka ada yang beramal untuk mendapatkan kedudukan dan derajat, mereka saling berlomba mendapatkan kedudukan dan posisi di sisi Allah swt, saling melampaui kedekatan dari-Nya.”

Sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah saat yang istimewa. Di dalamnya ada malam seribu bulan, do’a-do’a diijabah tanpa perantara, kesulitan meraih akhirat dimudahkan apalagi kesulitan dunia. Sejak zaman rasulullah, sahabat, salafushalih, generasi tabi’in dan ulama abad ini tidak ingin membiarkan begitu saja terlewat seperti biasanya pada 20 hari sebelumnya. Rasulullah mengencangkan ikat pinggangnya, keluar dari masjid untuk kebutuhan manusiawi seperti makan, minum dan lainnya.

Ramadhan kini pun telah cepat berlalu. Entah telah maksimalkah amalan ibadah kita di depan Allah Azza Wa Jalla Ar Rahman Ar Rahiim. Ada banyak orang mendapat hikmah dari “berduaannya dengan Allah”. Misalnya saja seorang Dadan Rusmawan yang kini menjadi salah satu radaktur MQ, al akh ini adalah insan yang diuji Allah swt dengan kelumpuhan pada kedua kakinya. Namun tak menyurutkan semangatnya untuk berangkat ke majelis ilmu Daarut Tauhid dan melanjutkan i’tikaf. Sering kali mendapat kesulitan saat menuju majelis ilmu tersebut. Suatu kamis sore saat itu setelah mendengar kajian dari Aa Gym, beliau beritikaf sejenak dan seseorang menepuk pundaknya yang tidak lain tidak bukan adalah Aa Gym itu sendiri.

Obrolan pun berlangsung sampai bertanya pada hobi dan beberapa hari setelah itu beliau dipertemukan dg Manajer Divisi MQIT dan akhirnya beliau mendapatkan pekerjaan yang layak yang mungkin bagi kebanyakan orang semacam beliau akan pasrah dan sulit untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Saudarku sekalian i’tikaflah kunci terkabulnya segala do’a beliau dan dimudahkan urusan dunia.

Kemudian ada seorang yang akrab dipanggil Abu Syamil, dengan i’tikaf hutang-hutangnya terbayar lunas. Baginya i’tikaf merupakan hari pembebasan. Ketika itu beliau masih kuliah di jakarta sembari berjualan buku untuk kebutuhan hidup di kota metropolitan itu. Namun bukannya untung yang didapat malah harus nombok untuk ongkos dari satu ke tempat ke tempat lain untuk berjualan. Tak kenal kata lelah, akhirnya dia dengan beberapa teman dekatnya patungan untuk membuat sebauh kios buku.

Namun lagi-lagi ujian terus menerpa untuk giliran jaga teman2nya tidak mau ikut dengan alasan beliau tinggal disana. Waktu terus bergulir sampai habis masa kontrak 1 tahun. Saat itu adalah 10 hari terakhir Ramadhan, beliau yang sudah berkeluarga ini meminta izin kepada istrinya untuk beritikaf dan beliaupun mengadukan segala masalahnya kepada Allah Azza Wa Jalla dengan sepenuh hati. Dan ajaib disaat beberapa hari habis masa kontrak toko, istrinya ditawari untuk tinggal di sebuah rumah yang akan dijadikan yayasan juga membutuhkan penjaga sekaligus pengajar di yayasan tersebut.

Begitulah kisah demi kisah dari “berduaan” dengan Allah Azza Wa Jalla, diantara kita pun mungkin punya kisah-kisah dibalik pengaduan-pengaduan kepada Allah di saat berduaan saja dengan-Nya. Lalu tunggu apa lagi jamaah shalat tarawih yang dirahmati Allah, 10 hari terkahir Ramadhan sudah di depan mata. Mari kita persiapkan diri bersama, kita rencanakan dan niatkan yang utama untuk beritikaf di baitullah.

Kepada Allah kita seharusnya mengadukan segala keluh kesah.
Sepenuh hati..Sejujur harap..
Tak ada yang sulit bagi Allah Azza Wa Jalla..
Lebih-lebih di hari-hari penuh pengabulan di Ramadhan yang mulia ini..

Langit selalu membukakan jalan untuk do’a-do’a tulus dimalam-malam itu..
Bahkan sepanjang Ramadhan,
Malam hari adalah lalu lintas yang padat bagi perjalanan do’a menuju langit..
Dan janji pengabulan itu,
Senantiasa dirasakan oleh orang-orang beriman yang sungguh-sungguh meminta..
Dengan keagungan ungkapan dan kesucian kata-kata, para penceramah sejati yang cemerlang itu mampu mengubah hantaman kekalahan menjadi kemenangan, dan guncangan malapetaka menjadi kejayaan. Bukankah berbagai kejadian, peristiwa besar, dan contoh-contoh sejarah itu tidak lain merupakan buah karya kata-kata yang penuh motivasi dan ceramah-ceramah yang mengobarkan semangat. (DR. Aidh Abdullah Al Qarni)

Senin, Agustus 31, 2009

"Kualitas Shaum di Saat Ifthor"



Menjadi hal yang nikmat mungkin saat ifthor jama'i baik di lingkungan kampus atau lingkungan masyarakat. memperhatikan saat-saat ifthor para mukmin yang menikmati hidangan berbuka di depan mata.
Coba perhatikan satu per satu wajah mereka ketika menikmati hidangan, wajah yang penuh warna, penuh rasa, asa dan harap. Diantara mereka terdapat beberapa karakter yang saya dapatkan.
Karakter pertama adalah insan dengan karakter tenang ketika berbuka. Sesuai sunnah mereka menikmati kurma terlebih dahulu, mengunyahnya perlahan-lahan pada semua sisi mulut kemudian menelannya dan membasahi tenggorokannya dnegan air yang telah disediakan entah itu teh hangat manis, es buah dan lainnya. Lalu melanjutkan menikmati hidangan berikutnya dengan tidak terburu-terburu dengan diam di tempatnya tapi tidak sampai kenyang. Karakter insan seperti ini adalah karakter insan yang menjadikan shaum sebgai sebuah kenikmatan yang sangat.
Karakter kedua adalah insan dengan karakter tenang namun matanya awas dan menuju segala sisi hidangan diletakkan seolah-olah mencari-mencari makanan favoritnya dengan terbayang dipikiran untuk menikmati yang ini dan yang itu. Selalu cepat dam mengunyah makanan karena takut kehabisan kemudian mengambil hidnagan yang lain dengan menyusun strategi yang akurat dan teliti untuk mendapatkan apa yang dimau. Insan seperti ini adalah insan yang kurang bisa menikmati shaumnya. Padahal Rasulullah SAW berbuka saja dengan hidangan yang tersedia dan tidak terburu-buru juga menikmati hidangan yang terdekat.
Karakter ketiga adalah insan dengan karakter yang semoga tidak ada sama sekali ada pada diri kita. Karakter insan ini lebih tamak dari karakter yang kedua, tidak hanya melihat segala penjuru arah hidangan tapi juga berpindah tempat menuju hidangan yang tersedia seolah-olah takut akan kehabisan hidangan itu dan akan sangat menyesal bila tidak mendapatkannya. Mulut tidak henti-hentinya mengunyah bahkan terkadang menyimpan beberapa sebagai cadangan padahal makanan yang ada di tangan masih ada dan bahkan di kedua tangannya.
"Pengembara Masa"

Sabtu, Agustus 22, 2009

Akhwat Perhatian, Ikhwan Jangan KeGeran…

Tulisan ini aku dedikasikan untuk seluruh Aktivis Dakwah Kampus terutama kritikan pada diriku sendiriku..Thank’s Allah telah mengingatkanku, syukurku mudah menagis karena Allah dan mengingat perjuangan mujahid. Aku sadari diriku ini masih jauh dari kualitas keimanan mereka, seperti Ibnul Khaatab yang lebih mencintai “Jihad” dibanding “istrinya”. Sampai aku pernah berkata “Tidak usahlah berharap bermimpi bertemu para Tabi’in, Sahabat bahkan Rasulullah..Bertemu dalam mimpi saja dengan Mujahid Abad Ini. Air mataku pun pasti akan luluh”.

Fenomena akhir-akhir ini di kalangan Aktivis Dakwah Kampus terlalu cairnya interaksi antara ikhwan dan akhwat. Mungkin hampir di setiap kampus. Termasuk saya gak ya? Saking cairnya kadang kalo ada akhwat yang sering ngirim sms tausiyah, Si Ikhwan suka KeGeeRan dan ngerasa perhatian banget tuch akhwat..padahal mah tuch akhwat Cuma mau ngabisin bonus pulsa doank.

Nah, terkadang saking seringnya interaksi antara seorang ikhwan dengan seorang akhwat yang sering partner bareng, biasanya mereka smsnya berawal dari kordinasi jadi curhatan hati. Beuh, jadi curhat nich. Katanya sih itu atas nama Ukhuwah, tapi bagaimana batasan ukhuwah antara ikhwan dan akhwat. Wah itu mah perlu ditanya ke Dewan Syariah untuk lebih lanjut. Saya bukan ahlinya.

Terkadang sebagai insan biasa ikhwan merasa sesuatu yang berbeda bila ada seorang akhwat yang “Perhatian” ke dia. Punya perasaan beda githu. “Bertanya-tanya sama diri sendiri, kok akhwat itu perhatian banget ya sama ane?” atau sebaliknya lho??? Fenomena ini sering sekali terjadi di kalangan Aktivis Dakwah makanya banyak sekali artikel-artikel di dunia maya yang berhubungan dengan hal-hal kayak gini. Seperti sebuah artikel yang tentang ikhwan yang lebih telenovela. Alkisah ada seorang ikhwan yang cukup dekat dengan seorang akhwat dan memiliki keinginan untuk melamar akhwat yang dekat dengan dia. Namun, ternyata si akhwat tersebut menerima lamaran dari ikhwan lain jadilah si ikhwan tersebut sangat telenovela sekali seperti film-film telenovela yang di televisi. Sakit hati banget kayaknya si ikhwan itu. Kasian banget ya tuch ikhwan, cintanya pupus dan bertepuk sebelah tangan.

Berhubung sama cerita di atas ada sebuah artikel yang menarik juga judulnya “Sudah Siapkah Jatuh Cinta” titik penting dari artikel ini bahwa jika belum siap jatuh cinta, ya jangan jatuh cinta dulu. Emang kalo sudah berhubungan dengan yang namanya hati itu susah-susah gampang bangunnya daripada jatuhnya. Oleh karena itu, forum-forum curhat di halaqah tempat yang pas buat netralisir. Hhmm, ternyata nich perhatian-perhatian seorang akhwat ke seorang ikhwan bisa di salah tafsirkan loh sama salah satu pihak apalagi kalo akhwat tersebut yang ikhwan kagumin makin bergejolak hati si ikhwan tuch atau sebaliknya, loh???.

Fenomena yang berlebihan kadang seorang ikhwan sering bertemu dengan seorang akhwat atas nama silatuhrami katanya, tapi sebenarnya akan jadi fitnah kalo si ikhwan itu pergi sendiri. Bukankah lebih baik berdua supaya gak jadi fitnah? Dah githu ketawa bareng dengan ngakaknya. Jadi bingung gak sih, bedanya aktivis dakwah sama orang ammah. Padahal ngaji tapi kok gthu ya…makanya Syaikhu Tarbiyah pernah bilang…”Oh ini yang bikin dakwah gak berkah”. Sebenarnya kita harus ngoreksi diri lagi kayaknya, dah ikhlas belum ya aktivitas kita selama ini, jangan-jangan setiap langkah dan niat kita untuk dakwah karena “dia” bukan “Dia”.

Oleh karena itu karena begitu sensitifnya dengan sebuah perhatian, maka kepada ikhwan dan akhwat jangan mudah ngasih perhatian dan mudah keGeerRan. Kan bisa berabe kalo kejadian, emang bener saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran itu boleh, tapi pertanyaannya kenapa harus lebih sering ke ikhwan dari pada ke sesama akhwat. Sekedar info ni, salah satu “Virus Ukhuwah” itu lebih senengnya seorang ikhwan saling nasehat-menasehati ke akhwat dan sebaliknya, bukan ke sesama jenis..

Ketika Jundi Mulai Berubah (Sebuah Dialog dengan Diriku)…

Ternyata tidak mudah membangun sebuah jaringan ukhuwah dalam sebuah lembaga yang sebenarnya kecil. Ketika harus mulai beradaptasi dengan mereka semua, mulai mengenali karakteristik masing-masing pribadi mereka, mencoba membangun ikatan kedekatan hati, bahkan harus saling berbagi masalah yang sedang dihadapi. Dan semua itu hanya dengan sebuah modal yang abstrak yaitu kepercayaan.
Tetapi mengapa ya semua hal itu tidak kita jamin keberlangsungannya, saya pikir ketika di awal sudah baik maka saya tidak usah mencapekkan diri dan merepotkan diri untuk terus melakukan semua hal itu.

Dan ternyata manusia itu makhluk yang sangat cepat berubah pandangannya. Ketika di awal dia sangat bersemangat untuk kemajuan organisasi kecil ini, tapi kenapa semangat itu mulai kendor dan parahnya lagi pola pikir mulai berubah jauh dari tempat start semula. Jika anda seorang pemimpin dari sebuah lembaga yang mencoba menjadi pemimpin yang baik dan menjadi teladan dihadapan anak buah anda, apa yang anda akan lakukan jika salah satu anak buah anda bahkan orang yang sangat anda percayai dan anda impi-impikan untuk menjadi pengganti anda berbelok tajam dari jalur yang sudah dbuat rapih-serapih mungkin.

Mungkin diantara nada akan mudah mejawab, cari saja pengganti dia, coba nasihati dia, atau bahkan bila anda adalah pemimpin yang diktator anda akan mengatakan tekan dan ancam saja dia. Sayang sekali semudah pandangan yang anda sampaikan, telah saya lakukan kecuali saran yang terakhir dan gagal yang saya dapatkan.
Lalu sekarang kalian terdiam memikirkan jawaban atau saran yang lebih baik. Jujur saja saya bingung apa yang harus saya lakukan, toh saya tidak mau memaksa seseorang untuk mengikuti kemauan saya. Karena setiap manusia yang dilahirkan punya hak asasi yang sangat dijunjung tinggi oleh negara maju.

Sepertinya kalian sudah mulai punya saran untuk saya, coba anda tukar posisi dia dengan anak buah anda yang lainnya mungkin saja dia sedang mengalami kebosanan, jangan terlalu banyak memberi tuntutan dan tugas kepada dia, atau langsung saja menanyakan kepada dia apa yang dia inginkan sebenarnya.
Terima kasih atas semua saran yang diberikan oleh kalian, maaf saya tidak bisa berlama-lama karena saya juga mulai bingung untuk berdiskusi dengan kalian. Karena kalain adalah saya.